*Rakanda Muhammad Taufiq Ulinuha

Genap empat bulan Covid-19 menjadi malapetaka bagi dunia, dan genap satu bulan pemerintah Indonesia kelimpungan dalam menangani virus ini. Menurut data terbaru dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, jumlah masyarakat yang terpapar covid-19 di Indonesia mencapai 7.135 jiwa dengan rincian 842 jiwa sembuh dan 616 jiwa meninggal dunia. Covid-19 merupakan hal tak terduga yang kini diamini masyarakat dunia sebagai malapetaka global. Berbagai isu muncul seiring berjalannya waktu terkait dengan pandemi ini. Ketakutan masyarakat yang disebabkan dengan masifnya pemberitaan mengenai covid-19 yang tidak tersaring, memperburuk situasi tanggap darurat yang saat ini sedang terjadi di Indonesia. Belum lama, kita mendengar berita mengenai penolakan jenazah positif Covid-19 oleh masyarakat, fakta tentang kematian tenaga kesehatan (nakes) yang terpapar virus yang sama, dan terakhir sikap pemerintah mengambil kebijakan politik yakni “Pembatasan Sosial Bersekala Besar” (PSBB). Pada segmen pendidikan, hal ini menjadi pengaruh yang luar biasa dalam rutinitas yang ada. Pendidikan yang masif dilaksanakan di Indonesia adalah pendidikan secara langsung dengan tatap muka. Dan ketika pandemi ini mewabah secara luas, maka para pelaku pendidikan kebingungan untuk mengalihkan model pendidikan konvensional ke model pendidikan virtual. Pun demikian dengan perkaderan Muhammadiyah dan pendidikan kepanduan di Hizbul Wathan, yang notabenenya adalah pendidikan diluar ruangan (Outdoor). Lantas apakah kita akan berpangku tangan saja pada kondisi seperti ini ?

Konsep Pendidikan Kepanduan
Seperti yang pernah disampaikan oleh Ramanda M Harun Roesyiedh saat menjadi pelatih kami di Jaya Pertiwi, “Kepanduan bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari secara tekun, bukan pula merupakan suatu kumpulan dari ajaran-ajaran dan naskah-naskah buku. Bukan ! Kepanduan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama mengadakan pengembaraan seperti  kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, keterampilan dan kesediaan  memberi pertolongan.” Maka dapat disimpulkan bahwasanya hakikat dari pendidikan kepanduan itu adalah pendidikan dialam terbuka.
Secara substansial pendidikan dalam sistem kepanduan HW, adalah bukan mengajar ilmu supaya jadi pintar tetapi mendidik, membina, dan membimbing, di alam terbuka yang dikenal dengan istilah berburu atau mengembara, atau outdoor game (Hermijati, 2017, hal. 1), sehingga dapat dipahami bahwa pendidikan bukan pemaksaan, tetapi lebih terkesan sebagai mengembangkan potensi dan membiasakan dan ramah. Namun melihat kondisi hari ini, nampaknya terdapat kendala ketika pendidikan kepanduan dilaksanakan secara konvensional. Maka demi keberlangsungan perkaderan Muhammadiyah melalui Hizbul Wathan dan pendidikan kepanduan, perlu adanya penyesuaian terhadap kondisi dengan membuat formulasi-formulasi yang bisa digunakan oleh pelatih dan peserta didik.

Resiliensi Adalah Kunci
Schoon mengutip defenisi dari beberapa ahli dan menyimpulkan bahwa resiliensi merupakan proses dinamis dimana individu menunjukan fungsi adaptif dalam mengahadapi adversity yang berperan penting bagi dirinya (Mulyani, 2011). Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa resiliensi (daya lentur, ketahanan) adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkannya menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi yang tidak menyenangkan, atau mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Sebagaimana Firman Allah SWT, artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra‟d: 11).
Maka demi melanjutkan keberlangsungan perkaderan dan pendidikan kepanduan diperlukan adaptasi dan dilanjutkan perumusan metode yang sesuai dengan kultur dan problematika dari masing-masing Qobilah maupun Kwartir.

Praksis Perkaderan dan Pendidikan Kepanduan di Masa Pandemi
Sejak mewabahnya Covid-19, berbagai kegiatan perekonomian, pendidikan, dan lain sebagainya dilakukan dari rumah, ada program work from home, school from home, dsb. Kendala yang timbul pasti berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya, mulai dari sinyal, memori penyimpanan handphone, tugas online yang menumpuk, dan lainnya. Maka seperti yang saya sampaikan diawal, bahwa perlu adanya formulasi khusus yang disesuaikan dengan problematika yang ada.
Jangan sampai dengan adanya #stayathome menyebabkan “mandek”nya kaderisasi didalam tubuh persyarikatan melalui Kepanduan Hizbul Wathan, pun demikian dengan pendidikan kepanduan, jangan sampai nilai-nilai keIslaman, pendidikan karakter, pendidikan keterampilan dan asah kemampuan menjadi terhambat. Maka sebagai Pandu HW sudah seyogianya memikirkan bagaimana formulasi terbaik untuk melakukan resiliensi.
Sebagai contoh “Diskusi Patok Tenda” yang diinisiasi oleh Rakanda Ayunda Dewan Sughli Wilayah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Jawa Tengah, menjadi salah satu bentuk resiliensi meskipun masih terdapat beberapa kekurangan. Kemudian contoh lain Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kafilah Penuntun Moh. Djazman UMS, dengan menggunakan media You Tube, mereka memberikan edukasi mengenai tali-temali dan pendidikan kepanduan lainnya. Semoga Rakanda, Ayunda, Ramanda, dan Ibunda dapat melakukan resiliensi di Qobilah dan Kwartirnya masing-masing.

*Ketua Bidang Kegiatan DSW Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kwartir Wilayah Jawa Tengah, Ketua DSD Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kwartir Daerah Kabupaten Kendal, & Anggota MCCC PWM Jawa Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here